
Siapa di antara kita yang tidak pernah tergoda aroma manis kue-kue tradisional? Di antara berbagai jajanan pasar yang melegenda, kue putu belanda punya tempat spesial di hati banyak orang Indonesia. Bukan kue putu bambu yang dikukus dalam tabung bambu dengan isian gula merah, melainkan camilan bertekstur lembut mirip bolu, dengan kejutan vla cokelat lumer di tengahnya. Rasanya legit, manis gurih, dan langsung membawa nostalgia zaman kecil, terutama bagi yang pernah merasakan kudapan ini di acara arisan atau lebaran dulu.
Meski namanya mengandung kata “Belanda”, kue ini sebenarnya lahir dari perpaduan budaya masa kolonial di tanah air. Konon, camilan ini dibuat oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia pada zaman penjajahan, menggunakan bahan-bahan seperti tepung terigu, mentega, dan telur yang saat itu dianggap mewah. Itulah mengapa kue ini diberi nama putu belanda semacam “versi istimewa” dari kue putu biasa yang lebih sederhana. Bedanya mencolok sekali: kalau kue putu klasik berbahan tepung beras dan kukus, versi Belanda ini dipanggang hingga bagian luarnya sedikit garing tapi dalamnya tetap empuk.
Apa Sih yang Membuat Kue Putu Belanda Begitu Istimewa?

Tekstur jadi daya tarik utama kue ini. Bagian luarnya agak crispy karena proses panggang, sementara di dalamnya lembut banget seperti bolu. Ditambah lagi isian vla cokelat yang meleleh saat digigit sensasi lumer di mulutnya bikin ketagihan! Banyak orang bilang, satu biji saja rasanya kurang. Apalagi kalau disajikan hangat-hangat, aroma manisnya langsung menggoda selera.
Selain itu, kue ini sangat fleksibel. Dulu memang paling sering pakai isian vla cokelat, tapi sekarang sudah banyak variasi. Ada yang menggunakan vla vanila, keju, pandan, bahkan kopi untuk rasa lebih dewasa. Cocok sekali buat camilan sore sambil ngopi, hantaran pernikahan, atau sekadar teman ngobrol bareng keluarga.
Perbedaan Kue Putu Belanda dengan Kue Putu Biasa

Jangan sampai tertukar ya! Kue putu yang biasa kita jumpai di pedagang keliling malam hari itu sebenarnya kue putu bambu atau putu mangkok. Bahan dasarnya tepung beras, diwarnai hijau pandan, diisi gula merah, lalu dikukus dalam cetakan bambu. Suara uapnya yang seperti peluit kapal kecil itu jadi ciri khasnya.
Sementara kue putu belanda sama sekali berbeda. Pakai tepung terigu, dimasak dengan oven, dan bentuknya mirip mangkok kecil atau muffin. Isiannya creamy dari vla, bukan gula jawa. Jadi kalau kamu cari yang legit dan lumer, inilah pilihan tepatnya.
Resep Kue Putu Belanda Sederhana yang Bisa Kamu Coba di Rumah
Ingin bikin sendiri? Tenang, resepnya tidak sulit dan bahannya mudah ditemui di pasar. Ini versi klasik dengan vla cokelat yang paling banyak disukai.
Bahan untuk Vla Cokelat (Isian):
- 500 ml susu cair
- 100 gr gula pasir
- 2 sdm maizena
- 2 sdm cokelat bubuk
- 1 sdt pasta vanila
- Sejumput garam
Bahan Adonan Kue:
- 200 gr margarin atau butter
- 150 gr gula halus
- 4 butir kuning telur
- 250 ml susu cair
- 250 gr tepung terigu protein sedang
- 1 sdt baking powder
- Sejumput garam

Cara Membuat: Pertama, buat vla cokelatnya dulu. Campur semua bahan vla dalam panci, masak dengan api kecil sambil terus di aduk sampai mengental dan meletup-letup kecil. Dinginkan, lalu masukkan ke plastik segitiga atau piping bag. Sisihkan.
Selanjutnya, kocok margarin dan gula halus sampai mengembang pucat (sekitar 5-7 menit). Masukkan kuning telur satu per satu sambil terus di kocok. Tambahkan susu cair sedikit-sedikit, aduk rata. Terakhir, masukkan tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk asal rata saja agar tidak overmix.
Pindahkan adonan ke plastik segitiga. Siapkan cetakan mangkok kecil (atau loyang muffin) yang sudah dioles margarin. Semprotkan adonan sampai ¾ penuh, lalu semprot vla cokelat di tengahnya sebagai isian. Panggang di oven suhu 170°C selama 25-30 menit atau sampai matang dan kecokelatan.
Setelah matang, keluarkan dari cetakan dan biarkan agak dingin. Nikmati selagi hangat di jamin lumer dan bikin nagih!
Kenapa Harus Coba Kue Putu Belanda Sekarang?

Di tengah maraknya camilan kekinian, kue putu belanda justru terasa begitu autentik dan penuh cerita. Rasanya membawa kita kembali ke masa kecil, ke rumah nenek, atau arisan ibu-ibu dulu. Lagipula, membuatnya sendiri di rumah bisa jadi aktivitas seru bareng keluarga. Hasilnya lebih higienis, dan tentu saja lebih murah.
Jadi, yuk coba buat sendiri hari ini. Siapa tahu, kue ini bisa jadi signature camilan di rumahmu. Atau mungkin, kamu punya variasi isian favorit? Share pengalamanmu di kolom komentar ya! Siapa tahu bisa menginspirasi banyak orang untuk mencintai lagi kudapan jadul yang satu ini.








































